Jumat, 08 Maret 2013

Untitled Sci-Fi Story By Me



“Kamu nggak apa-apa?”
                “Ya, nggak apa-apa kok,”  kata seorang anak, yang tadi sempat terpeleset.
                “Baiklah, sekarang kalian periksa gedung tersebut dan pastikan ‘mereka’ tidak ada di dalam!” perintah seorang tentara kepada anak buahnya.
                Tentara-tentara itu mendekati gedung tersebut. Perlahan mereka mendekati pintu gedung, dan masuk ke dalamnya. Gedung itu, walaupun bagian atasnya sudah runtuh, namun bagian bawahnya masih cukup kokoh. Tidak seperti gedung lain, gedung ini sangat sedikit jendela, modelnya pun agak lama. Perlahan, tentara-tentara tersebut memasuki lorong gedung, yang gelap dan sangat sunyi.  Semakin masuk ke dalam gedung tersebut, semakin sedikit cahaya yang masuk, membuat para tentara itu harus mengaktifkan nightvision goggle mereka. Mereka mengecek setiap ruangan yang ada, jangan sampai ada satu dari “mereka” yang ada di gedung tersebut dan memberikan posisi mereka kepada pihaknya. 
                Setelah cukup lama memeriksa, para tentara itu keluar dari gedung tersebut dan melapor kepada pimpinan mereka.
                “Area bersih, pak!” seru salah satu dari mereka.
                “Oke, semua masuk ke dalam! Kita akan aman di gedung ini!” Perintah si pemimpin tersebut. “Untuk sementara....,” ucapnya dalam hati.

                Sebuah rombongan masuk ke gedung tersebut. Rombongan tersebut terdiri atas orang-orang yang selamat dari serangan besar-besaran “mereka”, termasuk anak yang tadi sempat terpeleset itu. Mereka digiring masuk ke dalam gedung tersebut, ke sebuah ruangan besar agak jauh dari pintu dimana mereka masuk tadi. Di dalam ruangan tersebut, si pemimpin tentara mengeluarkan sebuah lampu. Lampu tersebut kecil, namun cukup terang untuk sebuah ruangan. Lampu tersebut menggunakan tenaga surya dan sedikit baterai, serta sangat hemat dalam penggunaan energinya. Sehingga lampu tersebut dapat menyala cukup lama, paling tidak 2-3 hari. Penerangan tersebut digunakan mereka untuk makan dan beristirahat, sementara seorang tentara dan seorang medis mengobati orang-orang yang terluka dengan sigap.
                Anak yang tadi duduk bersandar di tembok. Dia mengeluarkan sebuah handphone, yang terlihat sangat tipis, dengan panel surya dibelakangnya.  Layarnya full touchscreen, dan memiliki fitur-fitur yang futuristik.
                 Ia melihat jam yang ada di handphone nya. “Jam 1,” ucapnya dalam hati. Ia dan rombongannya hanya memiliki waktu 1,5 jam, sebelum kota itu dihancurkan dengan bom atom, yang cukup untuk menghancurkan satu kota. Maka sebelum mereka mati akibat ledakan tersebut, mereka harus mencapai Zona Evakuasi.
                Zona Evakuasi adalah satu-satunya daerah yang aman untuk evakuasi, karena mendapat perlindungan yang paling kuat dan efektif dari “mereka”. Zona tersebut berada di pinggiran kota,  tidak terlalu jauh dari posisi mereka sekarang. Dari zona tersebut, mereka akan di evakuasi menuju tempat-tempat yang aman.
                Di sisi lain, dua orang tentara sedang berjaga di balik pintu gedung untuk memberi tahu bila ada tanda-tanda dari “mereka”. Tiba-tiba saja, mereka mendengar suara raungan yang mengerikan. Suaranya begitu keras dan pekik, yang membuat kedua tentara tersebut gugup. Mereka langsung menghubungi si pemimpin, yang sudah bersiaga sejak tadi. Si pemimpin tersebut menyuruh rombongan untuk bergerak melalui pintu belakang, dijaga oleh tentara-tentara terbaik yang ia percaya. Sedangkan ia sendiri bergerak menuju pintu masuk, dan mulai mengeluarkan gadgetnya. Ia mengeluarkan semacam goggle, yang dapat menampilkan thermal vision dan GPS. Melalui peralatannya, iya melihat  tidak hanya satu, tapi lima dari “mereka”. Sebuah keadaan yang sangat menegangkan. Tidak hannya satu, tapi lima. Apalagi mereka cukup sulit untuk dilumpuhkan, butuh satu magazin penuh peluru explosive.
                Tak lama kemudian, pertempuran antara manusia dengan “mereka” tak terhindarkan. Ledakan dimana-mana, para tentara dengan sigap mengambil perlindungan dan melontarkan peluru-peluru meledak. Tak mau kalah, “mereka” juga menembakkan senjata mereka. Cukup sulit untuk mengalahkan “mereka”, karena mereka menggunakan baju pelindung yang terbuat dari metal yang aneh. Walaupun tetap dapat dihancurkan, baju pelindung tersebut membuat tentara-tentara tersebut kewalahan.
                Di sisi lain gedung, rombongan berhasil keluar dan berlari menjauh dari gedung tersebut. Sialnya, ada dua dari “mereka” yang menghadang. Perlawanan sengit antara tentara dengan “mereka” terjadi. Rombongan orang-orang selamat diserang oleh salah satu dari “mereka”. Anak yang tadi terpental dari rombongan yang sudah berlari cukup jauh. Salah satu dari “mereka” mendekatinya. Di saat-saat seperti itu, memorinya muncul, kembali di waktu sebelum penyerangan mereka dimulai. Waktu dimana semuanya baik-baik saja....

To be continued...


Terima kasih telah membaca artikelnya. Jangan lupa jika ingin copas, cantumkan sumbernya ya. Juga dipersilakan untuk berkomentar tentang artikel ini. Follow twitter saya @alamni_

Dapatkan Domain co.cc Secara GRATIS, Tentukan sendiri namanya  

Berlangganan Via RSS

Atau Berlangganan gratis Via Email Di bawah ini. dengan begitu anda tidak akan tertinggal update dari Share-I

Powered by FeedBurner

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar semua!!!!!!!
tinggalkan komen dan kritik dan saran disini. jangan lupa, jika ingin mengcopy paste artikel, jangan lupa tuliskan sumbernya. kasian, dah capek-capek bikin penulisnya.